Menteri Keuangan Sri Mulyani Jelaskan Soal Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dolar AS dan Kondisi Ekonomi

Kamis, 07 Juli 2022 10:50 kurs Rupiah Dolar AS nilai tukar Rupiah Sri Mulyani Menteri Keuangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Jelaskan Soal Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dolar AS dan Kondisi Ekonomi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Jelaskan Soal Rupiah Tembus Rp 15.000 Per Dolar AS dan Kondisi Ekonomi

ILUSTRASI Menteri Keuangan Sri Mulyani (CNBC)

YUKBIZ.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir terpantau tembus Rp 15.000.

Berdasarkan data di Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada di level 15.017 pada Senin (4/7/2022), melemah ke level 15.043.50 untuk Selasa (5/7/2022), dan sedikit menguat menjadi 15.015 di Rabu (6/7/2022).

Terkait kondisi tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan penjelasan mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

Ia mengatakan, beberapa indikator ekonomi terutama dari sisi keuangan yakni nilai tukar rupiah, suku bunga, dan inflasi memang masih dalam keadaan dinamis.

Namun, kondisi Indonesia dinilai masih cukup baik, setidaknya tercermin dari neraca transaksi berjalan.

"Beberapa indikator ekonomi, dalam situasi dunia yang seperti sekarang memang masih sangat akan dinamis. Namun Indonesia dari sisi neraca pembayaran, transaksi berjalannya cukup baik," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR RI, dikutip dari Kompas.com (5/7/2022).

Tercatat neraca transaksi yang berjalan pada kuartal satu 2022 mengalami surplus, melanjutkan capaian akhir tahun 2021 yang juga surplus.

Hingga akhir Mei 2022 cadangan devisa juga mencapai 135,6 miliar, setara dengan pembiayaan 6 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah.

Hanya saja, Sri Mulyani menyebut kebijakan Bank Sentral AS yang menaikkan suku bunga acuan dengan agresif, membuat investor lebih tertarik menanamkan dananya di sana.

Sehingga, banyak aliran dana keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

"Dalam hal ini capital flow (outflow) barangkali yang terjadi karena dengan interest rate naik di AS, maka kemudian investor mencari aset yang aman atau interest rate-nya lebih tinggi,” jelas dia.

Terkait situasi yang terjadi, Sri Mulyani mengaku pemerintah akan terus melihat perkembangan dan indikator ekonomi dalam menyusun kebijakan.

Berita Terkait