Kondisi Petani Sawit Riau saat Harga Bikin Prihatin

Jum'at, 13 Mei 2022 11:20 harga sawit kelapa sawit Riau Petani Sawit Swadaya Riau harga TBS kelapa sawit minyak kelapa sawit
Kondisi Petani Sawit Riau saat Harga Bikin Prihatin
Kondisi Petani Sawit Riau saat Harga Bikin Prihatin

ILUSTRASI petani kelapa sawit

YUKBIZ.COM - Pengumuman larangan ekspor minyak goreng dan bahan baku minyak goreng oleh Presiden Jokowi pada 22 April 2022 lalu, seolah menjadi penanda dimulainya kesulitan dan beragam masalah bagi petani sawit di Tanah Air, termasuk di Provinsi Riau. 

Ariana Ramelan, petani sawit asal Siak, Riau menyebut kondisi yang dirasakan pihaknya dan rekan-rekan semakin berat. 

Harga jual tandan buah segar yang diterima sudah turun semakin dalam. "Sekarang harga sudah turun jauh, sebelum ada larangan ini kami bisa terima sampai Rp3.000 per kg dari para tengkulak. Tapi sekarang hanya dihargai Rp1.000 sampai Rp2.100 per kg," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (11/5/2022). 

Menurut data Disbun Riau, harga acuan TBS sawit petani pada Selasa (11/5/2022) berada di angka Rp2.900 per kg, atau turun dari periode sebelum Lebaran yang berada di level sekitar Rp3.900 per kg. 

Harga yang ditetapkan ini merupakan harga sawit petani di pabrik, dan angkanya bisa lebih rendah di level petani apabila menjual melalui tengkulak, pengepul, atau toke sawit. 

Ariana mengakui, perbedaan harga yang diterima petani sawit dari para tengkulak disebabkan beberapa hal. 

Misalnya risiko akibat antrean tumpukan buah sawit saat akan masuk ke pabrik, akhirnya kualitas buah berkurang dan hasilnya harga beli dari pabrik lebih rendah. 

Lalu setelah adanya pelarangan ekspor ini, pabrik membeli buah petani dari tengkulak dengan harga tidak pasti. 

Dimana apabila harga beli lebih rendah, risikonya akan didapatkan petani dengan pengurangan harga beli untuk pengiriman buah selanjutnya.

Namun bila harga beli buah lebih tinggi, petani tidak mendapatkan pembagian keuntungan selayaknya yang diterima saat para tengkulak itu merugi. 

Memang situasi ini memberatkan bagi petani sawit, tapi tidak ada pilihan lain yang bisa diambil karena buah sawit harus dipanen sesuai waktunya agar produktivitas pohon sawit dapat terjaga. 

Bila waktu panen ditunda, risikonya lebih besar lagi yaitu buah akan membusuk di pohon, sampai kepada rusaknya pohon sawit untuk jangka panjang. 

Berita Terkait